Tampilkan postingan dengan label Kata bijak Bung Karno. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kata bijak Bung Karno. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 November 2013

Kata Bijak Gus Dur

Abdurahman Wahid (1940-2009) atau yang lebih dikenal dengan nama Gus Dur adalah salah satu presiden RI yang menjabat pada tahun 1999-2001. Gus Dur terpilih menjadi presiden RI ke - 4 setelah Ir. Soekarno, Soeharto dan BJ. Habibie.
Gus Dur yang terkenal dengan kata – katanya yang berbunyi: ‘Gitu aja kok repot!‘ itu merupakan seorang pribadi yang dibesarkan di lingkungan pesantren (meskipun beliau pernah mengakui bahwa dirinya memiliki darah Tiong Hoa). Keluarga dari Gus Dur sendiri, mulai dari buyut, kakek, hingga ayahnya adalah orang-orang yang telah terjun di dunia politik sejak zaman kemerdekaan.
Kakek dari ayahnya, Hasyim Asyari adalah pendiri partai NU. Sedangkan ayah Gus Dur, Wahid Hasyim pernah menjabat sebagai Menteri Agama RI pada era pemerintahan Soekarno Hatta. Kedua nama tersebut bahkan telah diabadikan sebagai nama jalan di Jakarta.
Gus Dur yang sempat tidak lulus SMP tersebut pernah mengenyam pendidikan di Universitas Al-Azhar – Mesir, Universitas Baghdad – Irak dan belajar ke Jerman dan Perancis pada masa remajanya, sebelum akhirnya ditunjuk menjadi ketua tertinggi partai NU dan pendiri partai politik PKB.

Berikut adalah beberapa kutipan Kata Bijak Gus Dur dan Kumpulan Kata Mutiara Gus Dur selama hidupnya :

“Kemajemukan harus bisa diterima, tanpa adanya perbedaan”

“Kalau Anda tidak ingin dibatasi, janganlah Anda membatasi. Kita sendirilah yang harusnya tahu batas kita masing – masing”

“Guru spiritual saya adalah realitas. Dan guru realitas saya adalah spiritualitas”

“Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu”

“Guyonan CIA, di Indonesia sudah tidak ada teroris lagi, karena semua teroris (disini) sudah menjadi menteri”

“Menyesali nasib tidak akan mengubah keadaan. Terus berkarya dan bekerjalah yang membuat kita berharga”

“Tidak boleh ada pembedaan kepada setiap warga negara Indonesia berdasarkan agama, bahasa ibu, kebudayaan, serta ideologi”

“Kalau sekarang ini ada yang menjelekkan nama Islam, kita didik agar membawa nama Islam yang damai”

“Agama mengajarkan pesan-pesan damai dan ekstremis memutarbalikannya”

“Kita ini celaka. 70% tanah air kita laut, tetapi garam saja impor. Kalau bodoh sih gak apa-apa, tapi kalau disengaja kok bodoh. Saya tahu impor setiap satu ton dapat 10 dollar. Jadi, impor itu hanya menguntungkan yang impor”

“Dari sudut akidah, hak orang Islam nemang lebih tinggi daripada penganut agama lain. Namun, Indonesia bukan negara Islam”

“Keragaman adalah keniscayaan akan hukum Tuhan atas ciptaan-Nya”

“Jadinya, kita menjadi bangsa yang jadi bahan tertawaan orang. Masak, Timor Leste yang kayak itu saja bisa permainkan kita” (Kutipan Gus Dur yang menanggapi isu adanya pembantaian dan kekerasan di Timor Leste yang dilakukan oleh pemerintahan Indonesia)

“Kita butuh Islam ramah, bukan Islam marah”

“Bukankah dengan demikian menjadi jelas bagi kita bahwa menerima perbedaan pendapat dan asal–muasal bukanlah tanda kelemahan, melainkan menunjukkan kekuatan”

“Pemahaman apa pun yang berbeda apalagi bertentangan bisa menjadi bibit – bibit perpecahan apalagi bertentangan, bisa menjadi bibit-bibit – bibit perpecahan dan persatuan bangsa”

“Keberhasilan seorang pemimpin diukur dari kemampuan mereka dalam menyejahterakan umat yang mereka pimpin”

“Sejarah lama kita sebagai bangsa memang sangat menarik. Rasa tertarik itu timbul dari kenyataan bahwa yang ditulis sering tidak sama dengan yang terjadi. Dengan kata lain, sejarah masa lalu, sering dijadikan alat legitimasi kekuasaan”

“Marilah kita bangun bangsa dan kita hindarkan pertikaian yang sering terjadi dalam sejarah. Inilah esensi tugas kesehjahteraan kita, yang tidak boleh kita lupakan sama sekali”

“Pertanyaan dasarnya adalah, sanggupkah kita sebagai bangsa mengembangkan sikap meninggikan kepentingan bersama itu dan mengalahkan kepentingan pribadi para pemimpin bangsa kita?”

“Dalam hidup nyata dan dalam perjuangan yang tak mudah, kita bukan tokoh dongeng dan mitos yang gagah berani dan penuh sifat kepahlawanan. Kita, yang bukan tokoh mitos, yang punya anak, istri dan keluarga, mengenal rasa takut. Meskipun takut kita jalan terus, berani melompati pagar batas ketakutan tadi, mungkin disitu harga kita ditetapkan”

“Saya tidak khawatir dengan dominasi minoritas. Itu lahir karena kita yang sering merasa minder. Umat Islam (mungkin karena faktor masa lalu) sering dihantui rasa kekalahan dan kelemahan”

“Mau tidak mau kita lalu harus memilih antara dua versi sejarah. Versi perbedaan agamakah, atau versi pertentangan akibat ambisi-ambisi pribadi? Dari sinilah kita lalu terjebak oleh keharusan membaca sejarah lama dalam versi yang berbeda-beda. Ini adalah akibat langsung akan kesenangan bangsa kita atas lambang-lambang kesejarahan. Catatan sejarah hampir-hampir tidak dibuat, dengan demikian kita lalu harus meraba-raba masa lampau kita sendiri. Inilah yang seharusnya kita lakukan, bukan lalu sekadar melafalkan tahun-tahun dan nama-nama dalam ‘pelajaran’ sejarah di sekolah-sekolah kita. Kita bukanlah mengingat-ingat tahun kejadian, melainkan memahami sejarah sebagai sebuah proses”

“Mistifikasi atau fakta sejarah memang terjadi dalam perjalanan panjang setiap bangsa. Tugas para sejarahwan adalah memisahkan fakta sejarah dari mistifikasi, dan dengan demikian, memisahkan kenyataan sejarah dari legenda. Kegagalan seorang sejarahwan untuk melakukan pemisahan seperti itu, hanya akan berujung pada penafsiran yang salah atas sejarah. Karena itu, seringkali kita harus berhati-hati  terhadap kecenderungan untuk mencari tema-tema besar dalam memahami sejarah masa lampau kita sendiri. Terutama dalam memisahkan mana yang faktual dan mana yang mitos dari ‘kebesaran’ kerajaan-kerajaan masa lampau”

“Tidak ada TKI yang ilegal, yang ada negera memperlakukan pebiaran-pembiaran terhadap tumpah darah bangsanya”

“DPR kok seperti anak TK”

“Gitu aja kok repot!”

“Kalau dulu saya mengatakan DPR TK (taman kanak-kanak), sekarang malah playgroup”


www.comtrindo@gmail.com

Senin, 25 November 2013

Kata - kata Mutiara Bung Karno

Ir. Soekarno (1901-1970) adalah presiden pertama Indonesia yang menjabat sebagai presiden RI pada tahun 1945 – 1966. Hingga saat ini, kebanyakan masyarakat Indonesia masih menganggap Ir. Soekarno atau biasa dipanggil Bung Karno sebagai pemimpin terbaik yang pernah dimiliki oleh Bangsa Indonesia. Soekarno juga merupakan orang pertama yang memproklamasikan kemerdekaan, mencetuskan Pancasila dan UUD 45.
Selama masa kepemimpinannya, Bung Karno dikenal sebagai orang yang memiliki pengaruh dan wibawa yang besar, baik di dalam maupun luar negeri. Ir. Soekarno juga dikenal sebagai orator ulung yang mampu mempengaruhi dan mengobarkan semangat rakyat melalui pidatonya yang berapi – api. Hingga saat ini telah banyak pidato, baik teks, dokumentasi maupun rekaman video dari Bung Karno yang sangat terkenal hingga saat ini, seperti pidato tentang Ganyang Malaysia, To Build The World A New (pidato Ir. Soekarno di depan rapat PBB tahun 1963), Proklamasi Kemerdekaan dan banyak lagi.
Presiden Soekarno meninggal pada tahun 1970 karena penyakit ginjal dan dimakamkan di Blitar tepat disebelah makam ibunya. Pemerintahan RI menetapkan masa berkabung selama 7 hari untuk menghormati jasa besar presiden Soekarno selama hidupnya bagi bangsa Indonesia.
Berikut adalah sebagian kecil dari kumpulan katamutiara dan kata bijak Bung Karno selama hidupnya, yang dikumpulkan dari pidato, buku dan biografi Bung Karno.


“Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”

“Merdeka hanyalah sebuah jembatan. Walaupun jembatan emas, di seberang jembatan itu jalan pecah dua: satu ke dunia sama rata sama rasa, satu ke dunia sama ratap sama tangis!”

“Kita adalah bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tak akan mengemis, kita tak akan minta – minta apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu ! Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka dari pada makan bestik tetapi budak. (pada suatu Pidato HUT Proklamasi tahun 1963)

“Barangsiapa ingin mutiara, harus berani terjun di lautan yang dalam”

“Laki-laki dan perempuan adalah seperti dua sayap dari seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; Jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali”

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya”

“Saya katakan bahwa cita-cita kita dengan keadilan sosial ialah satu masyarakat yang adil dan makmur dengan menggunakan alat-alat industri, alat-alat tehnologi yang sangat modern. Asal tidak dikuasai oleh sistem kapitalisme”

“Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun”

“Tuhan tidak merubah nasib suatu bangsa, sebelum bangsa itu merubah nasibnya”

“Tidak seorang pun yang menghitung-hitung;  berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya”

“Tetaplah bersemangat, Elang Rajawali!”

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”

“Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa”

“Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan segi tiga warna. Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk pekerjaan kita selesai ! Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat”

“Nasionalisme kita adalah nasionalisme yang membuat kita menjadi perkakasnya Tuhan, dan membuat kita menjadi hidup di dalamrokh”

“Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaran”

“Gantungkan cita-cita mu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit.  Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang”

“Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang rajawali “

“Firman Tuhan inilah gitaku, Firman Tuhan inilah harus menjadi Gitamu : “Innallahu la yu ghoiyiru ma bikaumin, hatta yu ghoiyiru ma biamfusihim”. ” Tuhan tidak merobah nasibnya sesuatu bangsa sebelum bangsa itu merobah nasibnya” (Pidato HUT Proklamasi, 1964 Bung Karno)

“Nasionalisme eropa adalah satu nasionalisme yang bersifat serang menyerang. Satu nasionalisme yang mengejar keperluan Beograd. Satu nasionalisme perdagangan yang untung atau rugi. Nasionalisme semacam itu pastilah salah, pastilah binasa”

“Sosialisme berarti adanya pabrik yang kolektif, adanya industrialisme yang kolektif, adanya produksi yang kolektif, adanya distribusi yang kolektif, adanya pendidikan yang kolektif”

“Orang tidak bisa mengabdi kepada Tuhan dengan tidak mengabdi kepada sesama manusia. Tuhan bersemayam di gubuknya si miskin”

“Apakah kelemahan kita? Kelemahan kita ialah kita kurang percaya diri kita sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong”

“Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca bengala dari pada masa yang akan datang”

“Dari sudut positif, kita tidak bisa membangunkan kultur kepribadian kita dengan sebaik-baiknya kalau tidak ada rasa kebangsaan yang sehat”

“Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka”

“Apakah kita mau Indonesia merdeka yang kaum kapitalnya merajalela, ataukah yang semua rakyatnya sejahtera, yang semua cukup makan, cukup pakaian, hidup dalam kesejahteraan, merasa dipangku oleh Ibu Pertiwi yang cukup memberi sandang dan pangan?”


“Seorang Marhaen adalah orang yang mempunyai alat yang sedikit. Bangsa kita yang puluhan juta jiwa yang sudah dimelaratkan, bekerja bukan untuk orang lain dan tidak ada orang bekerja untuk dia. Marhaenisme adalah Sosialisme Indonesia dalam praktek”

www.comtrindo@gmail.com