Abdurahman Wahid (1940-2009) atau yang lebih dikenal dengan nama Gus Dur adalah salah satu presiden RI yang menjabat pada tahun 1999-2001. Gus Dur terpilih menjadi presiden RI ke - 4 setelah Ir. Soekarno, Soeharto dan BJ. Habibie.
Gus Dur yang terkenal dengan kata –
katanya yang berbunyi: ‘Gitu aja kok repot!‘ itu merupakan seorang
pribadi yang dibesarkan di lingkungan pesantren (meskipun beliau pernah
mengakui bahwa dirinya memiliki darah Tiong Hoa). Keluarga dari Gus Dur
sendiri, mulai dari buyut, kakek, hingga ayahnya adalah orang-orang yang telah
terjun di dunia politik sejak zaman kemerdekaan.
Kakek dari ayahnya, Hasyim Asyari
adalah pendiri partai NU. Sedangkan ayah Gus Dur, Wahid Hasyim pernah menjabat
sebagai Menteri Agama RI pada era pemerintahan Soekarno Hatta. Kedua nama
tersebut bahkan telah diabadikan sebagai nama jalan di Jakarta.
Gus Dur yang sempat tidak lulus SMP
tersebut pernah mengenyam pendidikan di Universitas Al-Azhar – Mesir,
Universitas Baghdad – Irak dan belajar ke Jerman dan Perancis pada masa
remajanya, sebelum akhirnya ditunjuk menjadi ketua tertinggi partai NU dan
pendiri partai politik PKB.
Berikut adalah beberapa kutipan Kata
Bijak Gus Dur dan Kumpulan Kata Mutiara Gus Dur selama hidupnya :
“Kemajemukan harus bisa diterima, tanpa adanya perbedaan”
“Kalau Anda tidak ingin dibatasi, janganlah Anda
membatasi. Kita sendirilah yang harusnya tahu batas kita masing – masing”
“Guru spiritual saya adalah realitas. Dan
guru realitas saya adalah spiritualitas”
“Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa
melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa
agamamu”
“Guyonan CIA, di Indonesia sudah tidak ada teroris
lagi, karena semua teroris (disini) sudah menjadi menteri”
“Menyesali nasib tidak akan mengubah keadaan. Terus
berkarya dan bekerjalah yang membuat kita berharga”
“Tidak boleh ada pembedaan kepada setiap warga
negara Indonesia berdasarkan agama, bahasa ibu, kebudayaan, serta ideologi”
“Kalau sekarang ini ada yang menjelekkan nama Islam, kita
didik agar membawa nama Islam yang damai”
“Agama mengajarkan pesan-pesan damai dan ekstremis
memutarbalikannya”
“Kita ini celaka. 70% tanah air kita laut, tetapi garam
saja impor. Kalau bodoh sih gak apa-apa, tapi kalau disengaja kok bodoh. Saya
tahu impor setiap satu ton dapat 10 dollar. Jadi, impor itu hanya
menguntungkan yang impor”
“Dari sudut akidah, hak orang Islam nemang lebih tinggi
daripada penganut agama lain. Namun, Indonesia bukan negara Islam”
“Keragaman adalah keniscayaan akan hukum Tuhan atas
ciptaan-Nya”
“Jadinya, kita menjadi bangsa yang jadi bahan tertawaan
orang. Masak, Timor Leste yang kayak itu saja bisa permainkan kita” (Kutipan Gus Dur yang
menanggapi isu adanya pembantaian dan kekerasan di Timor Leste yang dilakukan
oleh pemerintahan Indonesia)
“Kita butuh Islam ramah, bukan Islam marah”
“Bukankah dengan demikian menjadi jelas bagi kita bahwa
menerima perbedaan pendapat dan asal–muasal bukanlah tanda kelemahan,
melainkan menunjukkan kekuatan”
“Pemahaman apa pun yang berbeda apalagi bertentangan bisa
menjadi bibit – bibit perpecahan apalagi bertentangan, bisa menjadi bibit-bibit
– bibit perpecahan dan persatuan bangsa”
“Keberhasilan seorang pemimpin diukur dari kemampuan
mereka dalam menyejahterakan umat yang mereka pimpin”
“Sejarah lama kita sebagai bangsa memang sangat menarik.
Rasa tertarik itu timbul dari kenyataan bahwa yang ditulis sering tidak sama
dengan yang terjadi. Dengan kata lain, sejarah masa lalu, sering dijadikan alat
legitimasi kekuasaan”
“Marilah kita bangun bangsa dan kita hindarkan pertikaian
yang sering terjadi dalam sejarah. Inilah esensi tugas kesehjahteraan kita,
yang tidak boleh kita lupakan sama sekali”
“Pertanyaan dasarnya adalah, sanggupkah kita sebagai
bangsa mengembangkan sikap meninggikan kepentingan bersama itu dan mengalahkan
kepentingan pribadi para pemimpin bangsa kita?”
“Dalam hidup nyata dan dalam perjuangan yang tak mudah,
kita bukan tokoh dongeng dan mitos yang gagah berani dan penuh sifat
kepahlawanan. Kita, yang bukan tokoh mitos, yang punya anak, istri dan keluarga,
mengenal rasa takut. Meskipun takut kita jalan terus, berani melompati pagar
batas ketakutan tadi, mungkin disitu harga kita ditetapkan”
“Saya tidak khawatir dengan dominasi minoritas. Itu lahir
karena kita yang sering merasa minder. Umat Islam (mungkin karena faktor masa
lalu) sering dihantui rasa kekalahan dan kelemahan”
“Mau tidak mau kita lalu harus memilih antara dua versi
sejarah. Versi perbedaan agamakah, atau versi pertentangan akibat ambisi-ambisi
pribadi? Dari sinilah kita lalu terjebak oleh keharusan membaca sejarah lama
dalam versi yang berbeda-beda. Ini adalah akibat langsung akan kesenangan
bangsa kita atas lambang-lambang kesejarahan. Catatan sejarah hampir-hampir
tidak dibuat, dengan demikian kita lalu harus meraba-raba masa lampau kita
sendiri. Inilah yang seharusnya kita lakukan, bukan lalu sekadar melafalkan
tahun-tahun dan nama-nama dalam ‘pelajaran’ sejarah di sekolah-sekolah kita.
Kita bukanlah mengingat-ingat tahun kejadian, melainkan memahami sejarah
sebagai sebuah proses”
“Mistifikasi atau fakta sejarah memang terjadi dalam
perjalanan panjang setiap bangsa. Tugas para sejarahwan adalah memisahkan fakta
sejarah dari mistifikasi, dan dengan demikian, memisahkan kenyataan sejarah
dari legenda. Kegagalan seorang sejarahwan untuk melakukan pemisahan seperti
itu, hanya akan berujung pada penafsiran yang salah atas sejarah. Karena itu,
seringkali kita harus berhati-hati terhadap kecenderungan untuk mencari
tema-tema besar dalam memahami sejarah masa lampau kita sendiri. Terutama dalam
memisahkan mana yang faktual dan mana yang mitos dari ‘kebesaran’
kerajaan-kerajaan masa lampau”
“Tidak ada TKI yang ilegal, yang ada negera memperlakukan
pebiaran-pembiaran terhadap tumpah darah bangsanya”
“DPR kok seperti anak TK”
“Gitu aja kok repot!”
“Kalau dulu saya mengatakan DPR TK (taman kanak-kanak),
sekarang malah playgroup”
www.comtrindo@gmail.com